Tangerang, 17 September 2026 — Lulus SMK bukan berarti perjalanan berhenti di ruang kelas. Justru setelah menyelesaikan pendidikan, para siswa dihadapkan pada berbagai pilihan yang akan menentukan langkah berikutnya, mulai dari melanjutkan kuliah, memasuki dunia kerja, membangun usaha, hingga mengembangkan keterampilan.
Persoalannya, tidak semua siswa sudah memiliki gambaran yang jelas mengenai arah tersebut.
Melihat kondisi itu, KKN Institut Nida El Adabi menghadirkan kegiatan “After School: Menentukan Arah, Menjemput Masa Depan” bagi siswa SMKN 12 Kabupaten Tangerang, Kamis, 17 September 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi para siswa untuk memahami berbagai pilihan setelah lulus sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan profesional.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan mengajak siswa tidak hanya memikirkan pertanyaan “setelah lulus mau ke mana?”, tetapi juga memahami apa saja yang perlu dipersiapkan agar pilihan tersebut dapat dijalani dengan lebih matang.
Setelah Lulus, Ada Banyak Jalan yang Bisa Dipilih
Bagi siswa SMK, masa setelah kelulusan sering kali identik dengan pertanyaan mengenai langkah berikutnya. Sebagian mungkin ingin melanjutkan kuliah, sebagian memilih bekerja, sementara yang lain tertarik untuk berwirausaha atau mengembangkan keterampilan tertentu.
Melalui materi After School, peserta diajak memahami bahwa tidak ada satu jalan yang harus ditempuh oleh semua orang. Yang menjadi persoalan bukan sekadar menentukan pilihan, tetapi memastikan bahwa pilihan tersebut disertai persiapan yang sesuai.
Dalam materi yang disampaikan, empat jalur utama diperkenalkan kepada peserta, yaitu kuliah, bekerja, berwirausaha, dan mengembangkan keterampilan. Keempatnya memiliki karakteristik dan kebutuhan persiapan yang berbeda.
Kuliah dapat menjadi pilihan bagi siswa yang ingin memperdalam pendidikan sekaligus memperluas jaringan. Bekerja memberikan pengalaman langsung sekaligus menjadi proses untuk membangun kemandirian finansial. Berwirausaha membuka ruang untuk menciptakan peluang dan membangun sesuatu secara mandiri, sedangkan pengembangan keterampilan menjadi bagian penting untuk meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan di dunia kerja maupun bidang profesional lainnya.
Dengan demikian, siswa tidak diarahkan untuk sekadar memilih berdasarkan tren atau mengikuti pilihan orang lain, tetapi mulai mengenali kemampuan, minat, dan tujuan yang ingin mereka capai.

Ijazah Saja Tidak Cukup untuk Menjemput Masa Depan
Salah satu pesan utama yang dibawa dalam kegiatan ini adalah bahwa ijazah merupakan bagian dari perjalanan pendidikan, tetapi bukan satu-satunya bekal untuk menghadapi masa depan.
Dunia pendidikan dan dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar bukti kelulusan. Siswa juga perlu membangun karakter, kompetensi, dan komitmen yang dapat menjadi modal dalam menghadapi berbagai situasi setelah lulus.
Materi yang diberikan kemudian mengarah pada pentingnya membangun karakter dan keterampilan yang relevan. Kemampuan seperti komunikasi, kreativitas, berpikir kritis, kemampuan berkolaborasi, serta pengembangan keterampilan teknis menjadi bagian dari bekal yang perlu dipersiapkan sejak masih berada di bangku sekolah.
Pesan tersebut disampaikan kepada peserta melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka. Siswa diajak melihat bahwa persiapan masa depan tidak harus menunggu setelah mendapatkan ijazah. Justru, semakin awal persiapan dilakukan, semakin banyak ruang yang tersedia untuk belajar, mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki diri.

Skill Membuat Diterima, Karakter Membuat Dipercaya
Dalam materi After School, peserta juga diajak melihat perbedaan antara keterampilan dan karakter. Keterampilan dapat menjadi salah satu alasan seseorang diterima dalam lingkungan pendidikan maupun pekerjaan, tetapi karakter menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan.
Kemampuan teknis tetap diperlukan. Namun, kemampuan tersebut perlu berjalan bersama sikap bertanggung jawab, kemampuan berkomunikasi, kemauan belajar, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama.
Karena itu, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak keterampilan yang dimiliki seseorang, tetapi juga bagaimana keterampilan tersebut digunakan dan bagaimana seseorang membawa dirinya ketika berhadapan dengan orang lain.
Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan bagi siswa SMK yang akan segera memasuki fase kehidupan setelah sekolah. Mereka tidak hanya perlu bertanya tentang pekerjaan apa yang ingin didapatkan, tetapi juga tentang pribadi seperti apa yang perlu dibentuk untuk dapat bertahan dan berkembang di lingkungan tersebut.

Gagal Bukan Identitas, tetapi Data untuk Memperbaiki Diri
Selain membahas pilihan masa depan, peserta juga diajak mengubah cara pandang terhadap kegagalan.
Belum mendapatkan pekerjaan bukan berarti seseorang gagal sebagai individu. Belum diterima di perguruan tinggi bukan berarti perjalanan harus berhenti. Begitu pula ketika rencana usaha belum berjalan sesuai harapan, kondisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat apa yang masih perlu diperbaiki.
Melalui sudut pandang tersebut, kegagalan ditempatkan sebagai informasi yang dapat digunakan untuk menentukan langkah berikutnya.
Jika belum mendapatkan pekerjaan, seseorang dapat mengevaluasi CV, portofolio, kemampuan, serta pengalaman yang dimiliki. Jika belum berhasil masuk perguruan tinggi, persiapan akademik dan strategi belajar dapat kembali diperiksa. Sementara bagi yang ingin berwirausaha, kondisi pasar, produk, strategi, dan kemampuan pengelolaan usaha dapat menjadi bagian yang perlu dievaluasi.
Pesan tersebut menjadi penting agar siswa tidak hanya memiliki cita-cita, tetapi juga memahami bahwa perjalanan menuju cita-cita membutuhkan proses, penyesuaian, dan kesiapan untuk terus belajar.
Tiga Langkah untuk Menjemput Masa Depan
Dalam sesi berikutnya, siswa diperkenalkan pada langkah sederhana untuk mulai mempersiapkan masa depan. Langkah pertama adalah mengenali diri dan menentukan arah, sehingga siswa memiliki gambaran mengenai apa yang ingin dituju setelah menyelesaikan pendidikan.
Langkah kedua adalah membangun skill dan pengalaman. Pilihan masa depan perlu diikuti dengan tindakan nyata, baik melalui pembelajaran, organisasi, pengalaman kerja, proyek, maupun kegiatan lain yang dapat menambah kemampuan dan portofolio.
Langkah ketiga adalah menyusun bekal sebelum lulus. Bekal tersebut dapat berupa CV dan portofolio yang rapi, pengalaman atau proyek nyata, keterampilan yang relevan, karakter yang kuat, serta target yang realistis untuk beberapa tahun ke depan.
Dengan pola tersebut, masa depan tidak lagi hanya dipandang sebagai sesuatu yang akan datang, tetapi sebagai sesuatu yang mulai dibangun sejak hari ini.

Menentukan Arah Sebelum Menjemput Masa Depan
Kegiatan After School: Menentukan Arah, Menjemput Masa Depan di SMKN 12 Kabupaten Tangerang menjadi salah satu bentuk kontribusi KKN Institut Nida El Adabi dalam memberikan pendampingan kepada generasi muda, khususnya dalam menghadapi fase transisi dari dunia sekolah menuju kehidupan setelah lulus.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa masa depan tidak cukup hanya direncanakan melalui cita-cita. Dibutuhkan langkah nyata untuk membangun kemampuan, pengalaman, karakter, dan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan.
Pertanyaan “Lulus SMK, mau ke mana?” pada akhirnya bukan sekadar pertanyaan tentang memilih kuliah atau bekerja. Pertanyaan tersebut menjadi titik awal untuk mengenali diri, menentukan tujuan, dan mulai mempersiapkan bekal yang dibutuhkan.
Sebab, masa depan bukan sesuatu yang hanya ditunggu setelah kelulusan. Masa depan dipersiapkan dari keputusan, keterampilan, pengalaman, dan karakter yang dibangun sejak hari ini.
Melalui kegiatan ini, KKN Institut Nida El Adabi berharap para siswa SMKN 12 Kabupaten Tangerang dapat memiliki pandangan yang lebih luas mengenai pilihan setelah lulus serta keberanian untuk mulai mempersiapkan langkah mereka masing-masing.
Karena lulus adalah akhir dari masa sekolah, tetapi bukan akhir dari proses belajar. Dari sinilah perjalanan menuju masa depan benar-benar dimulai.











