Perkembangan teknologi transaksi non-tunai kini bukan lagi monopoli bisnis di kota-kota besar. Pedagang kelontong, pemilik warung makan, hingga pelaku usaha rumahan di desa pun kini dituntut untuk beradaptasi agar tidak kehilangan pembeli yang kian jarang membawa uang tunai. Menjawab kebutuhan riil tersebut, Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Akara 06 Institut Nida El-Adabi menginisiasi langkah konkret percepatan digitalisasi keuangan melalui Workshop Pembuatan QRIS untuk pelaku UMKM di Desa Bojong Kamal.
Bertempat di Balai Desa Bojong Kamal pada Kamis (20/8/2026), agenda strategis ini terlaksana berkat sinergi nyata antara KKN Akara 06 Institut Nida El-Adabi, Bank Syariah Indonesia (BSI), serta kolaborasi bersama rekan-rekan mahasiswa KKN dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sinergi lintas kampus dan perbankan syariah ini diarahkan untuk mencetak ekosistem ekonomi desa yang lebih modern, efisien, dan inklusif.

Sesi pemaparan materi dirancang interaktif agar pelaku usaha lokal tidak merasa canggung dengan istilah-istilah perbankan digital. Perwakilan BSI membedah langsung urgensi kepemilikan barcode QRIS bagi merchant, mulai dari catatan transaksi yang otomatis terekam rapi hingga pencegahan risiko menerima uang palsu. Selain transaksi digital, BSI turut memperluas wawasan peserta mengenai integrasi layanan perbankan syariah lainnya, seperti kemudahan transaksi melalui BSI Agen, instrumen tabungan usaha, pembiayaan modal kerja, tabungan haji, hingga kepemilikan tabungan emas.
Salah satu fokus utama materi adalah penyederhanaan birokrasi administrasi. Pelaku usaha dipandu langkah demi langkah menyiapkan dokumen esensial, seperti KTP, NPWP jika ada, kelengkapan buku tabungan, serta bukti foto tempat usaha. Suasana seminar berlangsung hidup dengan tanya-jawab seputar kendala harian pedagang, mulai dari mekanisme pencairan saldo harian hingga cara memastikan notifikasi pembayaran masuk tanpa jeda.

Program ini dirancang melampaui seminar teori semata. Selepas sesi pemaparan di aula balai desa, panitia langsung membuka meja asistensi pendaftaran on-the-spot. Warga yang telah membawa persyaratan langsung didampingi mengisi formulir registrasi merchant dan pembukaan rekening BSI tanpa perlu antre jauh ke kantor cabang bank terdekat.
Langkah pendampingan pun dilanjutkan langsung hingga ke lapangan. Mahasiswa KKN Akara 06 bersama tim perbankan turun mengawal proses verifikasi usaha warga secara personal. Dukungan door-to-door ini memastikan para pengusaha mikro merasa terayomi selama proses peralihan sistem pembayaran, mematahkan stigma bahwa mengurus legalitas transaksi perbankan itu rumit dan memakan waktu.

Buah dari pendampingan intensif ini terbukti nyata saat lembar resmi QRIS atas nama toko masing-masing telah dicetak dan aktif digunakan. Transaksi usaha kini bisa diterima dari seluruh aplikasi mobile banking maupun dompet digital nasional tanpa hambatan sistem.

Implementasi barcode transaksi digital di etalase toko kelontong warga menandai babak baru kemandirian ekonomi Bojong Kamal. Inisiatif KKN Akara 06 Institut Nida El-Adabi bersama BSI dan KKN UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini bukan sekadar pemenuhan program pengabdian periodik, melainkan warisan infrastruktur finansial yang memperkuat daya saing UMKM lokal menghadapi era ekonomi digital.












