BERFIKIR MERUBAH TAKDIR

(APIPUDIN, MA.Hum)

Takdir sering kali menjadi kambing hitam. Bahkan menjadi alasan terakhir setiap manusia, ketika berhadapan dengan jalan buntu. Dalam kondisi ketidak berdayaan sering kali manusia berkata, “ah sudah takdir”, dan takdir di sini difahami oleh pada umumnya orang seuatu garis kehidupan manusia, yang tidak dapat dielekan, mau baik atau buruk. Pemahaman seperti ini mengisyaratkan manusia dibelenggu oleh takdir. Manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Padahal Allah menciptakan manusia sekaligus diberikan kemampuan. Bahkan akal yang ada di dalam diri manusia merupakan karunia yang diberikan Tuhan, dengan memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, mestinya manusia dapat mengatur segalanya, sesuai dengan ketentuan Allah yang telah ditetapkan.

Menggunakan akal secara maksimal merupakan wujud dari mensyukuri nikmat akal. Untuk itu syukur suatu tindakan yang sangat dianjurkan. Bahkan syukur bisa menjadikan bertambah nikmat atau melahirkan suatu kepuasan batin. Dengan syukur bisa materi yang disyukuri bertambah, boleh juga melahirkan kepuasan batin. Seseorang yang dapat menggunakan akalnya untuk berfikir secara maksimal, dan menemukan sebuah solusi dari kegiatannya itu, tentu dapat melahirkan kepuasan tersendiri. Di sisi lain melahirkan suatu kepercayaan dari orang dalam memecahkan masalah, dan orang akan berbondong-bondong menghapirinya.

 

Islam juga mewajibkan manusia untuk menuntut ilmu, dan menuntut llmu suatu tindakan menggunakan akal. Dengan mengunakan akal yang diinplementasi dengan menuntut ilmu memberikan kesan bahwa manusia harus bisa merubah takdir. Dengan ilmu dan akal yang dimiliki manusia setidaknya manusia dapat merubah masa depannya, atau akhir dari sebelumnya. Misalnya jika manusia ingin sekali hari esok lebih baik dari hari sebelumnya, tentu manusia harus menggunakan ilmu dan akalnya.

Dengan ilmu manusia akan mudah, untuk itu untuk meraih kebahagian atau kemudahan dihari esok, pada hari ini manusia harus menggunakan akal dan ilmunya. Contoh sederhana, agar esok hari bisa bangun pagi, maka pada malam hari harus tidur lebih awal. Manusia dapat memahami tidur lebih awal berdapak pada bangun pagi, adalah akibat dari pengetahuan yang didasarkan pada ilmu dan akal. Jika takdir difahami bangun pagi atau siang pada hari esok, maka cara menentukan takdirnya bergantung pada malam harinya. Dengan demikian maka takdir bisa dirubah. hal sejalan dengan sabda Rasul:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يرد القدر إلا الدعاء ولا يزيد في العمر إلا البر . رواه ابن حبان والحاكم

Rasul bersabda: Tidak ada yang dapat merubah takdir kecuali doa, dan tidak akan ada yang dapat menambah usia kecuali kebaikan. Riwayat Ibnu Hiban dan Hakim

Hadis di atas penulis berpemahaman, doa dapat merubah takdir seseorang, dan kebaikan dapat menambah usia. Di silnilah manusia dapat memilih, mau takdir baik atau buruk, dapat memilih juga tentang usia, mau panjang atau pendek. Bukankah Allah swt telah menciptakan hukum alam (kausalitas), dan manusia diberikan kemampuan untuk memilih. Allah yang menciptakan manusia Allah pula yang mengetahui kemampuan manusia. Allah mengetahui kemampuan manusia yang berakal, karenanya hanya manusia yang berakallah yang Allah bebani dan akan dipinta pertanggungan jawab dihari perhitungan.

Terkait dengan doa dapat merubah takdir, Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam salah satu karyanya, yaitu Tafsir al-Maraghi menjelaskan, bahwa doa terdiri dari dual hal; pertama dengan kata-kata (bil Qaul), kedua dengan perbuatan (bil Fi’li ).[1] Misalnya olahraga merupakan sebuah doa dengan tindakan, karena orang ingin sehat. Berdoa dengan kata-kata di mana seseorang ingin sehat, alam bahaw sadarnya akan menggiring orang tersebut untuk melakukan olah raga. Dua contoh di atas ini penulis rasa dapat membantu dalam memahami takdir. Sehingga pemahaman takdir tidak lagi membelenggu manusia, melainkan manusia yang dapat merubah takdir. Hal ini sejalan dengan firman Allah:

ž

Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Dari ayat di atas penulis memahami, bahwa perubahan suatu komunitas, baik itu masyarakat luas atau sempit, boleh juga organisasi, semua berawal dari perubahan pemikiran perorangan. Logikanya, perubahan pola fikir, akan berpengaruh kepada pola hidup, dan pola hidup perorangan akan berpengaruh pada pola hidup komunitas. Jika suatu komunitas didominasi oleh orang baik-baik, tentu akan melahirkan komunitas yang baik, dan begitu seterusnya.

  1. Definisi takdir  

Takdir/qadar (قدر) difahami sebagai perkiraan, takaran, atau akibat dari satu sistem. Memahami takdir akan mudah didapatkan jika dalam pembahasanya dibahas qada. Qada difahami ketetapan. Misalnya kopi telah Allah tetapkan pahit, dan gula telah Allah tetapkan manis. Ketika seseorang mau ngopi tentu harus mencampurkan gula dan kopi, percampuran itu akan melahirkan takdir. Dengan kata lain rasa kopi itu takdir dari pencampuran kopi dan gula. Secara hukum alam jika kopi lebih banyak kadarnya dengan gula, maka akibatnya pahit, itulah yang dinamakan takdir.

Berdasarkan bahasan di atas, maka takdir merupakan pemahaman yang realistis, bukan sebuh kambing hitam yang sering dipersalahkan orang. Namun sangat disangankan pemahaman takdir yang difahami kebanyakan orang, terkesan takdir merupakan suatu yang membekukan akal, sehingga manusia tidak dapat menggunakan akal secara maksimal. Mungkinkah takdir itu sesuatu yang membelenggu manusia, sehingga manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Mungkin juga satu sikap keputus asa atas ketidak mampuan dalam menghadapi persoalan. Persoalan inilah yang membuat hati penulis terenyuh untuk mengungkap lebih jauh tentang takdir.

Dengan pemahaman di atas maka takdir bisa dirubah oleh setiap manusia. Cara merubah takdir adalah merubah pola fikir. Hanya saja pola fikir hanya dapat dirubah dengan ilmu. tidak berlebihan jika Islam mewajibkan umatnya untuk selalu belajar. Bahkan wajibnya belajar dalam islam tidak hanya sampai Tua, melainkan sampai akhir hanyat.  

 

 


[1]Lihat Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi (Kairo: Dal-Alfikr,2001),Juz.1,h.28

Leave a Reply