Keajaiban

KEAJAIBAN

(Apipudin, MA.Hum)

 

Ajaib, itulah kata yang sering digunakan oleh orang tatkala menemukan sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal. Ajaib berasala dari hahasa arab, se-akar kata dengan ta’jub, yang membedakan hanya bentuk kata, karena keduanya mengandung makna yang sama. kata ajaib isim fil (subjek), ta’jub masdar (perihal).

Sesuatu di luar nalar akan menimpa makhluk Allah jika Allah menghendaki, baik makhluk hidup atau makhluk mati. Ajaib atau keistimewaan pada suatu benda tidak akan mengurangi kebesaran atau kekuasaan Allah, justru bagian dari kekuasaan Allah. keajaiban pada suatu benda bukan hal yang baru, pada zaman dahulupun pernah terjadi. Misalnya tongkat Nabi Musa pernah berubah menjadi ular juga padat membelah lautan, dan banyak lagi yang lainnya.

Demikian juga kajaiban, atau keitimewaan akan terjadi kepada makhluk hidup, manusia misalnya. Namun keajaiban pada manusia bertingkat-tingat sesuai dengan kedudukan (maqam) manusia itu sendiri. Kesitimewaan pada manusia dapat digolongkan pada beberapan sebutan, yaitu mu’jizat, irhas, karomah dan maunah. Sungguhpun semuanya memiliki sifat yang sama yaitu suatu keadaan diluar nalar manusia, tetapi dari sisi bahasa dibedakan, karena ada sedikit perbedaan dari sisi maqam yang menerima, dan cara mendapatkannya.

  1. Mu’jizat

Mu’jizat berasal dari kata a’jaza yang diterjemahkan secara harfiyah bermakna melemahkan. Adapun dalam artian terminologi Islam, adalah suatu keistimewaan yang dapat melemahkan orang yang tidak beriman terhadap kerosulan. Untuk itu mu’jizat hanya ada pada rasul tidak pada manusia pada umumnya. Maka kata mu’jizat hanya layak disandarkan pada rasul. Untuk itu jika ada sesorang mengatakan mendapatkan suatu keistimewaan, misalnya selamat dari tabrakan maut, tidak pantas dikatakan mendapatkan mu’jizat, dan seterusnya.

Ironis sekali banyak orang mu’min menggunakan kata mu’jizat tidak tetap guna. Hal ini selain merusak pada tatanan bahasa, juga menunjukan kebodohan muslim itu sendiri terhadap agamanya. Penggunaan kata ini terkesan mensejajarkan rasul dengan manusia pada umumnya.

B. Irhas  

Irhas tanda-tanda kerosulan sejak kecil. Tokoh agama nasrani sudah dapat menagkap tanda-tanda kerosulan Muhammad sewaktu kecil. Sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an, bahwa mereka tahu percis Muhammad sebagaimana orang tuanya. Orang di sekitarnyapun jika ingin tahu tentang rasul harus bertanya pada tokoh agama nasrani waktu itu. Hanya saja pengetahuan mereka tidak membuahkan iman, sehingga Islam memberikan setempel kafir. Yakni orang-orang yang tertutup kebenaran.

C. Karomah

Karomah sering juga dikatakan karamat. Karomah suatu keitimewaan yang diberikan Allah kepada kekasih Allah (wali). Untuk itu karomah dapat diusahakan. Siapa saja yang dapat mencapai wali Allah akan diberikan karomah. Banyak sekali informasi tentang karomah yang dimiliki oleh para wali. Misalnya, bisa berjalan di atas air, tidak hangus dibakar, dan lain sebagainnya.

Menyikapi karomah, jangan salah menangkap. Tidak semua keitimewaan itu dapat diartikan karomah, boleh jadi istidraj. Perbedaanya sangat jelas. Jika karomah diberikan kepada wali Allah seperti yang tersebut di atas, sementara istidraj keitimewaan yang diberikan pada seseorang yang menjauh dari Allah. maka jika ada orang yang memiliki keistimewaan, tetapi dia tidak pernah menjalankan syariat Islam jangan sekali-kali dikatakan karomah, sebab itu lebih pada istidraj.

D. Maunah

Maunah keistimewaan yang diberikan Allah kepada orang shalih, karena keshalihannya Allah tunjukan keitimewaan. Keitimewaan yang dimaksud adalah perbuatan meyalahi hukum alam. Misalnya seseorang mengalami tabrakan maut, tetapi dia selamat. Sering kita jumpai seseorang yang diberi maunah. Mungkin kita pernah mendengar informasi tentang orang yang seminggu berada di tengah lautan ketika tsunami menghantamnya, dan dia selamat tampa kurang apapun.

Leave a Reply